Sudah sering kita dengar istilah Lailatul Qadar, bahkan selalu lekat
dalam ingatan. Namun demikian, nyatanya kita tidak akan pernah mengenal
hakikat Lailatul Qadar itu sendiri, lantaran masalahnya amat ghaib.
Pengetahuan kita terbatas hanya pada apa yang telah ditunjukkan di dalam
berbagai nash, baik Al-Qur’an maupun As-Sunnah serta interpretasinya.
Secara etimologis, “lailah” artinya malam, dan “al-qadar” artinya takdir
atau kekuasaan. Adapun secara terminologis, dapat kita coba dengan cara
mengamati ayat berikut ini :
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“S
esungguhnya kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malm kemuliaan (Lailatul Qadar)” (QS Al-Qadar (97):1)
Dari pernyataan bahwa Al-Qur’an tersebut diturunkan pada saat Lailatul
Qadar, dapat kita tangkap pengertian, yakni; pertama , Lailatul Qadar
merupakan dari suatu malam, saat diturunkan Al-Qur’an secara
keseluruhan. Walhasil, Lailatul Qadar itu terjadi hanya satu kali, tidak
sebelum dan sesudahnya. Akan tetapi keagungan dan keutamaannya itu
diabadikan oleh Allah SWT untuk tahun-tahun berikutnya. Tegasnya,
Lailatul Qadar yang ada sekarang ini, hanyalah semacam hari peringatan
yang memiliki berbagai keistimewaan yang sangat luar biasa.
Kedua, Lailatul Qadar merupakan sebutan dari suatu malam pada setiap
bulan Ramadhan, yang dahulu kala pernah bersamaan dengan peristiwa
diturunkannya Al Qur’an secara keseluruhan.
Kedua pengertian tersebut di atas, merupakan hasil analisa yang boleh
jadi dapat diterima oleh semua pihak, lantaran sama sekali tidak
mengingkari keutamaan Lailatul Qadar. Sedangkan hakikatnya hanyalah
Allah SWT yang mengetahui. Sementara lailatul Qadar itu sendiri, dalam
sebuah ayat dinyatakan sebagai Lailah Mubarakah (ةalam kebaikan).
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ
“
Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi.”(Q.S Ad Dukhaan (44):3)
Dalam masalah ini, para Muffasir menjelaskan bahwa Lailatul Qadar itu
adalah saat diturunkannya Al-Qur’an secara keseluruhan dari Lauhul
Mahfuzhke Baitul’Izzah, sebelum diwahyukan kepada Rasulullah SAW secara
berangsur. Olah sebab itu, tidaklah dapat disamakan antara Lailatul
Qadar dengan Nuzulul Qur’an atau turunnya ayat pertama Al-Qur’an kepada
Nabi Muhammad SAW.
Betapa mulia dan begitu istimewanya Lailatul qadar itu, sebagai rahmat
dan nikmat Allah SWY bagi seluruh ummat Muhammad. Sehingga tak satupun
dari kita yang tak suka jika mampu meraihnya. Dan wajar pula, jika malam
jatuhnya Lailatul Qadar itupun selau dipertanyakan, bahkan nyaris
selalu menimbulkan perselisihan pendapat.
Kapan Lailatul Qadar?
Menurut suatu pendapat ; Lailatul Qadar itu jatuh pada malam ke 27 setiap bulan Ramadhan. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW:
مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيْهَا، فَلْيَتَحَرِّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ
“
Siapapaun mengintainya maka hendaklah mengntainya pada malam ke dua puluh tujuh.” (HR. Ahmad dari Ibnu ‘Umar)
Sementara menurut pendapat yang lain; perintah Rasulullah SAW untuk
mengintai pada malam ke 27 itu, bukan merupakan suatu kepastian bahwa
Lailatul Qadar akan terjadi pada malam itu. Akan tetapi hanya sebagai
petunjuk, bahwa pada malam itu memang kemungkinan besar akan terjadi.
Terbukti dengan permyataan Rasulullah SAW sendiri dalam hadist yang
lain.
أخْبَرَنَا رسول الله صلى الله عليه و
سلم عن لَيْلَةِ الْقَدْرِقال : هي في رمضان في العشر الأواخر ، في إحدى و
عشرين أو ثلاث و عشرين أو خمس و عشرين أو سبع و عشرين أو تسع و عشرين أو في
آخِرِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ
“
Rasulullah SAW telah memberitakan kepadaku tentang Lailatul Qadar.
Beliau bersabda: “Lailatul Qadar terjadi pada Ramadhan; dalam sepuluh
hari terakhir. Malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua
puluh tujuh, dua puluh sembilan atau ,malam terakhir.”
Adapun yang dimaksud dengan malam terakhir dalam hadts di atas, tentunya
jika sebulan Ramadhan itu hanya 29 hari. Sehingga malam yang ke 29
otomatis merupakan malam terakhir.
Dengan demikian, menurut kami pendapat yang kedua ini jauh lebih
dasarnya ketimbang pendapat pertama. Sehingga dapat diambil kesimpulan
bahwa; jatuhnya Lailatul Qadar itu sama sekali tak dapat ditentukan
secara pasti. Lantaran perupakan rahasia Allah SWT.
Lailatul Qadar yang agung itu—sebagaimana jawaban terdahulu sangantlah
ghaib malam jatuhnya. Namun demikian, Rasulullah SAW telah memberi
petunjuk kepada ummatnya bahwa jatuhnya itu di antara malam-malam ganjil
pada sepuluh hari Ramadhan terakhir. Maka tidak mustahil, jika diantara
hari-hari itu setiap tahunnya akan berubah-ubah, sebagaimana dapat
dicerna pula dari berbagai hadits yang berbeda-beda penjelasannya.
Kemungkinan berubah-ubah tersebut, jika dimaksudkan bahwa Lailatul Qadar
itu merupakan sebutan dari suatu malam pada setiap bulan Ramadhan yang
dahulu kala pernah bersamaan dengan peristiwa diturunkannya Al-Qur’an
secara keseluruhan. Adapun jika dimaksudkan bahwa, Lailatul Qadar hanya
semacam hari peringatan, maka tidak mungkin jatuhnya Lailatul Qadar itu
akan berubah, bahkan sampai kiamat nanti.
Selain itu, nampaknya perlu kita sadari pula, bahwa tidak adanya
kepastian pada malam tertentu tentang jatuhnya Lailatul Qadar ini,
justru banyak membawa hikmah yang antara lain, untuk mandapatkan
keutamaan dan berkah dari saat turunnya Lailatul Qadar itu, kaum
Muslimin tidak hanya dengan bertekun ibadah semalam saja. Akan tetapi
harus selama 10 malam terakhir bulan Ramadhan, sebagaimana dicontohkan
Rasulullah SAW beserta keluarganya.
KH Arwani Faishal
Wakil Ketua PP Lembaga Bahtsul Masa’il NU