Jumat, 17 Desember 2010

Haul Kiai Ma’sum Dibanjiri Pengunjung


Tegal - Halaman rumah Kiai Ma’sum di Desa Blubuk Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal mendadak menjadi ramai dipadati pengunjung, bukan karena geger adanya hiburan tetapi adanya peringatan Haul Kiai Ma’sum bin Waslim yang ke 4. Rabu (1/12) malam.

Menurut penuturan shohibul haul Ustadz Syamsudin, Kiai Ma’sum adalah tokoh yang selama hidupnya dihabiskan untuk berjuang dijalan Allah, karena dari biografinya tak sedikit yang terukir.



Dintaranya pernah menjadi Syuriyah Ranting NU desa Blubuk, pendiri MDA di Desa Blubuk, pencetus pertama kali kesenian rebana di desa Blubuk, dalam pemerintahan juga memiliki peran penting dalam pelayanan masyarakat yaitu menjadi Kaur Kesra.

“Kesempatan hidup beliau dari tahun 1921-2007 dijalankan tidak sia-sia, banyak santrinya yang telah berhasil meraih sukses, bahkan ada yang tidak malu-malu mengatakan bahwa kesuksesanya adalah berkat memegang teguh petuah-petuah atau nasehat-nasehat beliau. Dalam hal beribadah beliau berjuang bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi mengajak tetangga-tetangganya, bahkan pada setiap kesempatan sholat khususnya sholat subuh, kaia Ma’sum bersilaturahmi ke tetangga-tetangga agar bisa menjalankan sholat subuh secara berjamaah,” katanya.

Kegemaran bersilaturahmi itulah yang menjadikan sebagian masyarakat Blubuk pernah menimba ilmu kepadanya, karena dengan bersilaturahmi orang menjadi kenal. Usia 86 tahun telah mengantarkan beliau menjadi tokoh panutan karena keteladanannya. Karena semasa hidupnya ia memegang resep nabi yaitu ifda bi nafsi mulailah dari diri sendiri. “ tutur Ustadz Symasudin yang merupakan cucu kiai Ma’sum.

Dalam kesempatan haul tersebut juga di gelar pengahjian umum, didaulat sebagai pembicara adalah KH. Syeh Sholeh Muhammad bin Syeh Muhammad Basalamah. Dalam cerahmanya Syeh Sholeh menuturkan.

“Suatu saat Nabi bertannya kepada sabahat, siapakah mahluk didunia ini yang imanya paling baik ? malaikat, jawab sahabat, kemudian nabi menjelaskan, mahluk yang imanya paling baik adalah umat akhir zaman yang tidak pernah Allah, Malaikat, Nabi dan sahabat tetapi masih memegang i’tiqod apa yang dilakukan oleh nabi dan sahabat. Kalau malaikat bisa melihat Allah, jadi pantas saja imanya baik, Nabi dan rosul juga melihat malaikat sebagai perantara langsung Allah, sahabat juga melihat nabi secara langsung.

Sampai-Sampai Nabi sendiri mengatakan aku rindu dengan saudaraku, siapakah yang dirindui Nabi? Ternyata umat akhir zaman. jadi umat akhir zaman bukan saja diakui oleh Nabi sebagai mahluk yang imanya paling baik, tetapi juga sebagai sudara nabi. Mengapa umat akhir zaman dikatakan umat yang paling baik imanya? Sebagian ulama menjelaskan karena umat kahir zaman memiliki tangtangan yang sangat luar biasa yang lebih komplek dari umat-umat sebelumnya,“ tutur pengasuh pondok pesantren Darus Salam Jatibarang – Brebes.

Dalam tausiyahnya Syeh Sholeh, begitu KH. Syeh Sholeh Muhammad akrab disapa, menjelaskan tetang kematian, ternyata kematian di jawab oleh Syekh Sholeh dalam surat Al Mulk ayat dua, yang dimaksud mati adalah pindah dari alam dunia menuju alam akhirat, dan kuburan sebgai tempat pertama kali orang hidup di Alam akhirat.

Syeh Ibnu Abdi Salam mengajak muridnya kekuburan, lanjut Syeh Sholeh, lalu menanyakan kepada muridnya apakah dikuburan itu ramai ? lalu muridnya berkata sepi, jawaban itulah yang diluruskan oleh Syeh Ibnu Abdi Salam, di kuburan itu sebenarnya ramai sekali didalamnya, disana ada tiga kategori manusia, pertama tersenyum, merenung, dan yang ketiga menangis. Semua itu tergantung amal dan ibadahnya ketika masih hidup.

Panitia Pelaksana Nur Hasan kepada NU Online menjelaskan, bahwa haul yang ke 4 itu merupkan kegaitan rutin semenjak semeninggalnya Almarhum, dengan tujuan mendoakan almarhum supaya amal ibdahanya bisa diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala selain itu juga sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa beliau ketika masih hidup.

“Kegiatan haul diawali dari ba’da Ashar yaitu ziarah kubur, panitia mengira yang mengikuti ziarah kemakam kiai Ma’sum hanya puluhan orang, tetapi masyarakat sangat antusias sehingga ratusan orang datang untuk mengikutinya, ini adalah sebagai bukti bahwa kecintaan terhadap kiai Ma’sum sebagai guru. Tadi juga karena cuacanya hujan jadi zaiarah kubur dipusatkan di Musholla,“ jelasnya (miz)

Sumber : NU Online, 2 Desember 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar