Sabtu, 10 Maret 2012

SEJARAH GP ANSOR

Sejarah Singkat Gerakan Pemuda Ansor
Kelahiran Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) diwarnai oleh semangat perjuangan, nasionalisme, pembebasan, dan epos kepahlawanan. GP Ansor terlahir dalam suasana keterpaduan antara kepeloporan pemuda pasca-Sumpah Pemuda, semangat kebangsaan, kerakyatan, dan sekaligus spirit keagamaan. Karenanya, kisah Laskar Hizbullah, Barisan Kepanduan Ansor, dan Banser (Barisan Serbaguna) sebagai bentuk perjuangan Ansor nyaris melegenda. Terutama, saat perjuangan fisik melawan penjajahan dan penumpasan G 30 S/PKI, peran Ansor sangat menonjol.
 
Ansor dilahirkan dari rahim Nahdlatul Ulama (NU) dari situasi ”konflik” internal dan tuntutan kebutuhan alamiah. Berawal dari perbedaan antara tokoh tradisional dan tokoh modernis yang muncul di tubuh Nahdlatul Wathan, organisasi keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan Islam, pembinaan mubaligh, dan pembinaan kader. KH Abdul Wahab Hasbullah, tokoh tradisional dan KH Mas Mansyur yang berhaluan modernis, akhirnya menempuh arus gerakan yang berbeda justru saat tengah tumbuhnya semangat untuk mendirikan organisasi kepemudaan Islam.

Dua tahun setelah perpecahan itu, pada 1924 para pemuda yang mendukung KH Abdul Wahab –yang kemudian menjadi pendiri NU– membentuk wadah dengan nama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air). Organisasi inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Pemuda Ansor setelah sebelumnya mengalami perubahan nama seperti Persatuan Pemuda NU (PPNU), Pemuda NU (PNU), dan Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO).
Nama Ansor ini merupakan saran KH. Abdul Wahab, “ulama besa” sekaligus guru besar kaum muda saat itu, yang diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah. Dengan demikian ANO dimaksudkan dapat mengambil hikmah serta tauladan terhadap sikap, perilaku dan semangat perjuangan para sahabat Nabi yang mendapat predikat Ansor tersebut. Gerakan ANO (yang kelak disebut GP Ansor) harus senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar Sahabat Ansor, yakni sebagi penolong, pejuang dan bahkan pelopor dalam menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran Islam. Inilah komitmen awal yang harus dipegang teguh setiap anggota ANO (GP Ansor).
Meski ANO dinyatakan sebagai bagian dari NU, secara formal organisatoris belum tercantum dalam struktur organisasi NU. Hubungan ANO dengan NU saat itu masih bersifat hubungan pribadi antar tokoh. Baru pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, tepatnya pada tanggal 10 Muharram 1353 H atau 24 April 1934, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU dengan pengurus antara lain: Ketua H.M. Thohir Bakri; Wakil Ketua Abdullah Oebayd; Sekretaris H. Achmad Barawi dan Abdus Salam.
 
Dalam perkembangannya secara diam-diam khususnya ANO Cabang Malang, mengembangkan organisasi gerakan kepanduan yang disebut Banoe (Barisan Ansor Nahdlatul Oelama) yang kelak disebut BANSER (Barisan Serbaguna). Dalam Kongres II ANO di Malang tahun 1937. Di Kongres ini, Banoe menunjukkan kebolehan pertamakalinya dalam baris berbaris dengan mengenakan seragam dengan Komandan Moh. Syamsul Islam yang juga Ketua ANO Cabang Malang. Sedangkan instruktur umum Banoe Malang adalah Mayor TNI Hamid Rusydi, tokoh yang namaya tetap dikenang dan bahkan diabadikan sebagai sama salah satu jalan di kota Malang.
Salah satu keputusan penting Kongres II ANO di Malang tersebut adalah didirikannya Banoe di tiap cabang ANO. Selain itu, menyempurnakan Anggaran Rumah Tangga ANO terutama yang menyangkut soal Banoe.
 
Pada masa pendudukan Jepang organisasi-organisasi pemuda diberangus oleh pemerintah kolonial Jepang termasuk ANO. Setelah revolusi fisik (1945 – 1949) usai, tokoh ANO Surabaya, Moh. Chusaini Tiway, melempar mengemukakan ide untuk mengaktifkan kembali ANO. Ide ini mendapat sambutan positif dari KH. Wachid Hasyim, Menteri Agama RIS kala itu, maka pada tanggal 14 Desember 1949 lahir kesepakatan membangun kembali ANO dengan nama baru Gerakan Pemuda Ansor, disingkat Pemuda Ansor (kini lebih pupuler disingkat GP Ansor).
 
GP Ansor hingga saat ini telah berkembang sedemikan rupa menjadi organisasi kemasyarakatan pemuda di Indonesia yang memiliki watak kepemudaan, kerakyatan, keislaman dan kebangsaan. GP Ansor hingga saat ini telah berkembang memiliki 433 Cabang (Tingkat Kabupaten/Kota) di bawah koordinasi 32 Pengurus Wilayah (Tingkat Provinsi) hingga ke tingkat desa. Ditambah dengan kemampuannya mengelola keanggotaan khusus BANSER (Barisan Ansor Serbaguna) yang memiliki kualitas dan kekuatan tersendiri di tengah masyarakat.
 
Di sepanjang sejarah perjalanan bangsa, dengan kemampuan dan kekuatan tersebut GP Ansor memiliki peran strategis dan signifikan dalam perkembangan masyarakat Indonesia. GP Ansor mampu mempertahankan eksistensi dirinya, mampu mendorong percepatan mobilitas sosial, politik dan kebudayaan bagi anggotanya, serta mampu menunjukkan kualitas peran maupun kualitas keanggotaannya. GP Ansor tetap eksis dalam setiap episode sejarah perjalan bangsa dan tetap menempati posisi dan peran yang stategis dalm setiap pergantian kepemimpinan nasional.

(Diambil dari http://www.gp-ansor.org/profil/sejarah-berdirinya-ansor oleh Hernoe R)

Sejarah Muslimat NU

Sejarah Singkat Muslimat Nahdlatul 'Ulama

Bulan April merupakan kenangan tentang perjuangan R.A. Kartini, dan juga peringatan hari lahirnya organisasi wanita dari kalangan nadhliyin pada 8 April, yaitu Muslimat NU. Keduanya mempunyai persamaan, yaitu sama-sama memperjuangkan hak-hak wanita.

Dalam panggung sejarah Indonesia, peranan Muslimat NU terhadap kemajuan kaum wanita Indonesia tidaklah sedikit. Bidang-bidang layanan yang menjadi garapannya meliputi kesehatan, pendidikan, sosial, dan ekonomi.

Menurut Aisyah Hamid Baidhawi dalam makalahnya yang dikutip dalam buku Perempuan dalam Islam terbitan Gramedia, kelahiran organisasi Muslimat Nahdlatul Ulama secara tidak langsung dilatarbelakangi cita-cita R.A. Kartini tentang persamaan hak yang memicu berbagai aktivitas peningkatan posisi dan peran wanita.

Semangat dan perkembangan baru tersebut telah membuka mata para kaum muda terpelajar dalam masalah wanita dan tidak jarang di antara mereka yang memberikan kelonggaran bagi anak-anak perempuan untuk masuk ke sekolah-sekolah, demikian halnya terjadi juga di kalangan umat Islam.

Lembaga pendidikan Islam tertua yang didirikan khusus untuk anak-anak perempuan adalah Sekolah “Diniyah Putri” Padang Panjang di Sumatera Barat. Sekolah ini didirikan oleh Ny. Rahmah El Yunusiah pada tahun 1923.

Setelah itu di Pulau Jawa bermunculan madrasah-madrasah putri. Namun dalam perkembangannya, masih banyak hambatan yang ditemui wanita Islam Indonesia untuk maju, terutama yang datang dari cara pemahaman ajaran agama yang sempit dan tekanan adat-istiadat yang rumit.

Misalnya saja pada tahun 1939 ketika Ir. Soekarno dan istrinya meninggalkan rapat yang diselenggarakan Muhammadiyah sebagai protes atas dikenakannya kain pembatas (tabir) yang memisahkan peserta pria dan wanita. Hal-hal seperti itulah yang mendorong kalangan wanita (yang disebut oleh penulis sebagai kalangan Ahlusunnah wal Jama’ah) untuk mengorganisasikan diri agar dapat menjawab tantangan yang ada, terutama tantangan yang dihadapi oleh wanita muslim.

Setelah melalui berbagai proses perjuangan, terutama dalam internal organisasi NU, akhirnya pada Muktamar NU ke-15 di Surabaya, tanggal 5-9 Desember 1940, diputuskan pengesahan Muslimat lengkap dengan Anggaran Dasar dan Pengurus Besar-nya. Namun baru pada Muktamar NU ke-16 di Purwokerto tanggal 29 Maret 1946 Muslimat NU disahkan dan diresmikan sebagai bagian dari NU, yang namanya pada saat itu adalah Nahdhlatul Ulama Muslimat, disingkat NUM.

Sebagaimana NU, Muslimat juga tidak dapat dipisahkan begitu saja dengan pesantren. Pemimpin Muslimat biasanya adalah istri para pemimpin pesantren. Demikian pula dengan kader-kadernya, yang tidak lain putri-putri kiai atau santri-santri dari pesantren. Struktur organisasi Muslimat sama seperti struktur organisasi pemerintahan, mempunyai pusat kepemimpinan dan cabang-cabangnya hingga tingkat desa/kelurahan.

Sejak kelahirannya pada tahun 1946 hingga 1952, Muslimat menjadi bagian NU. Dari awal tahun 1940 sampai 1952, perjuangan NU ditandai dengan perjuangan kemerdekaan RI. Anggota-anggota NU, termasuk Muslimat, mengambil peran yang cukup penting, seperti di dapur umum, Palang Merah, bahkan sebagai kurir penghubung, bergabung dengan pasukan-pasukan pejuang, seperti Hizbullah, Sabilillah, dan lain-lain.

Pada Muktamar NU ke-19 di Palembang tahun 1952, NU meningkatkan dirinya sebagai partai politik, yang juga mengubah bentuk organisasi Muslimat menjadi Badan Otonom dari NU dengan nama baru Muslimat Nahdlatul Ulama disingkat Muslimat NU. Muktamar NU ke-20 pada tahun 1954 di Surabaya adalah kongres pertama Muslimat NU sebagai Badan Otonom dari NU.

Muslimat NU membahas berbagai masalah wanita, antara lain perkawinan di bawah umur. Perjuangan Muslimat NU dalam masalah perkawinan dilakukan dengan perannya dalam pembentukan BP4 (Badan Penasihat Perkawinan dan Penyelesaian Perceraian).

Dalam kongresnya yang ketujuh di Jakarta tahun 1959, Muslimat baru menghilangkan tabir dari arena kongres. Selain itu, keputusan penting yang dicapai adalah mengajukan pernyataan kepada anggota PBNU agar anggota Muslimat dapat dicalonkan sebagai calon prioritas menjadi anggota DPR, DPRD, dan Konstituante.

Muslimat bergabung dengan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) sejak tahun 1956. Kowani adalah kelanjutan dari Kongres Perempoean Indonesia, yang diselenggarakan pada tahun 1928. Kehadiran Muslimat di Kowani ternyata mendapat respons positif dan menempati posisi yang tidak mengecewakan. Peran Muslimat di Kowani mulai menonjol dalam dekade 1960-an ketika mendesak pemerintah untuk membubarkan TK Melati yang dikelola oleh Gerwani/PKI dan mengambil alih TK tersebut.

Peran Muslimat selanjutnya yaitu pada tahun 1967 ketika Ketua Umum Muslimat saat itu Ny. Machmudah Mawardi mendirikan Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) sebagai wadah untuk mempersatukan gerak langkah organisasi-organisasi wanita Islam dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama.
Perjuangan Kiai Dahlan

Sementara sejarah pergerakan wanita NU memiliki akar kesejarahan panjang dengan pergumulan yang amat sengit yang akhirnya memunculkan berbagai gerakan wanita, baik Muslimat, Fatayat, maupun Ikatan Pelajar Putri NU.

Sejarah mencatat, kongres NU di Menes, Pandeglang, Banten, tahun 1938 merupakan forum yang memiliki arti tersendiri bagi proses terbentuknya organisasi Muslimat NU.

Sejak kelahirannya di tahun 1926, NU adalah organisasi yang anggotanya hanyalah kaum laki-laki belaka. Para ulama  NU saat itu masih berpendapat, wanita belum masanya aktif di organisasi. Anggapan bahwa ruang gerak wanita cukuplah di rumah saja masih kuat melekat pada umumnya warga NU saat itu. Hal itu terus berlangsung hingga terjadi polarisasi pendapat yang cukup hangat tentang perlu-tidaknya wanita berkecimpung dalam organisasi.

Dalam kongres itu, untuk pertama kalinya tampil seorang muslimat NU di atas podium, berbicara tentang perlunya wanita NU mendapatkan hak yang sama dengan kaum pria dalam menerima didikan agama melalui organisasi NU.

Verslag (berita, laporan) Kongres NU XIII mencatat, "Pada hari Rebo ddo: 15 Juni '38 sekira poekoel 3 habis dhohor telah dilangsoengkan openbare vergadering (dari kongres) bagi kaoem iboe.

Tentang tempat kaoem iboe dan kaoem bapak jang memegang pimpinan dan wakil-wakil pemerintah adalah terpisah satoe dengan lainnja dengan batas kain poetih."

Sejak kongres NU di Menes, wanita telah secara resmi diterima menjadi anggota NU, meskipun sifat keanggotannya hanya sebagai pendengar dan pengikut, tak diperbolehkan menduduki kursi kepengurusan. Hal seperti itu terus berlangsung hingga Kongres NU XV di Surabaya tahun 1940.

Dalam kongres tersebut terjadi pembahasan yang cukup sengit tentang usulan Muslimat yang hendak menjadi bagian tersendiri, mempunyai kepengurusan tersendiri dalam tubuh NU. Dahlan termasuk pihak-pihak yang secara gigih memperjuangkan agar usulan tersebut bisa diterima peserta kongres. Begitu tajamnya pro-kontra menyangkut penerimaan usulan tersebut, sehingga kongres sepakat menyerahkan perkara itu kepada PB Syuriah untuk diputuskan.

Sehari sebelum kongres ditutup, kata sepakat menyangkut penerimaan Muslimat belum lagi didapat. Dahlan-lah yang berupaya keras membuat semacam pernyataan penerimaan Muslimat untuk ditandatangani Hadlratus Syaikh K.H. Hasyim Asy'ari dan K.H. A. Wahab Hasbullah. Dengan adanya secarik kertas sebagai tanda persetujuan kedua tokoh besar NU itu, proses penerimaan dapat berjalan dengan lancar.

Bersama A. Aziz Dijar, Dahlan pulalah yang terlibat secara penuh dalam penyusunan peraturan khusus yang menjadi cikal bakal Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muslimat NU di kemudian hari. Bersamaan dengan hari penutupan kongres NU XVI, organisasi Muslimat NU secara resmi dibentuk, tepatnya tanggla 29 Maret 1946/26 Rabiul Akhir 1365.

Sebagai ketuanya dipilih Chadidjah Dahlan, asal Pasuruan, istri Dahlan. Ia salah seorang wanita yang berada di lingkungan NU itu selama dua tahun, yakni sampai Oktober 1948. Sebuah rintisan yang sangat berharga dalam memperjuangkan harkat dan martabat kaumnya di lingkungan NU, sehingga keberadaannya diakui dunia internasional, terutama dalam kepeloporannya di bidang gerakan wanita.

Kini, setelah melewati kurun waktu puluhan tahun, Muslimat NU menjadi organisasi wanita yang "raksasa", baik dari segi jumlah anggota maupun medan garapan dan peranannya. Para perintis, pendiri, dan penerus organisasi pada angkatan pertama, mungkin tidak pernah membayangkan bahwa kelak organisasi wanita di kalangan NU itu bakal tumbuh seperti sekarang ini.

Muslimat NU kini membawahkan 13.568 TPQ, 9.800 TK/RA, 4.657 playgroup. Sementara Yayasan Hidmat NU membawahkan 38.000 majelis ta’lim. Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU mengelola 103 panti asuhan, 74 BKIA/rumah bersalin/rumah sakit, 11 Balai Latihan Kerja. Selain itu ada juga Yayasan Haji Muslimat NU, yang menaungi 146 Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). 

Sementara itu Induk Koperasi An Nisa membawahkan sembilan pusat koperasi dan 131 koperasi primer berbadan hukum, outlet pemasaran sektor agro dan 17 rintisan.

"Kami sekarang sedang mempersiapkan sebuah holding company yang diharapkan pada tahun 2021 sudah bisa melakukan initial public offering, dengan nama An Nisa Putri Mandiri," kata Khofifah Indar Parawarsa, ketua umum Muslimat NU.

Muslimat NU juga punya Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Majelis Ta’lim sebanyak 29 rintisan, yang antara lain majelis ta’lim berbasis wirausaha atau simpan pinjam, serta 79 rintisan program life skill untuk anak putus sekolah atau mereka yang berada dalam usia produktif.

Selain memberikan layanan yang bersifat institusional permanen, Muslimat NU, dalam mengejar pencapaian target tujuan pembangunan milenium atau Millenium Development Goals (MDGs), juga melakukan berbagai program, baik terkait dengan pemberantasan buta huruf maupun penyelamatan lingkungan.

(diambil dari website  http://majalah-alkisah.com/index.php/dunia-islam/530-kiprah-muslimat-nu-berbakti-demi-negeri)

Rabu, 15 Februari 2012

Safari Maulid Dihadiri Ratusan Pengunjung


Blubuk  - Dalam rangka menyemarakan kelahiran Rosululloh Muhammad SAW, Pimpinan Ranting Fatayat NU dan Muslimat NU Desa Blubuk menggelar kegiatan Pembacaan Maulid Al Barzanji keliling selama sebulan penuh.

Kegiatan yang dikemas dalam Safari Maulid itu bertempat di Masjid dan Mushola se Desa Blubuk secara bergilir. Kegiatan dimulai sejak datangnya bulan maulid / Robiul Awal 1433 H itu memasuki giliran ke 16.

Rabu, 08 Februari 2012

MWC NU Dukuhwaru Bangun Masjid Darun Ni'mah

Pembangunan Tersendat, Perlu Uluran Tangan Umat

Dukuhwaru - Pembangunan Masjid Darun Ni’mah milik Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama Kecamatan Dukuhwaru, tersendat. Masih dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk melanjutkan proses pembangunannya. Lalu?

Masjid Darun Ni'mah yang berada di Jalan Raya Jatibarang Slawi Kilometer 4, nampaknya perlu uluran tangan dari semua umat Islam, terutama warga Nahdliyin. Pasalnya, setelah dibuka dua tahun yang lalu dengaqn ditandai peletakan batu pertama, hingga sekarang kondisinya masih belum juga mengalami perkembangan yang menggembirakan. Malah kalau dilihat dari segi bangunan, belum sampai 60 persen.

Kalau dilihat dari letaknya yang cukup strategis, maka pembangunan masjid tersebut menjadi kebutuhan umat Islam terutama bagi warga NU.  Selain kebutuhan komunitas karena masjid berada di area gedung MWC NU dan SMP Ma’arif NU Dukuhwaru, juga menjadi konsumsi bersama karena menempati areal dekat perumahan warga dan di tepi jalan raya.

Ketua Tanfidziyah MWC NU Kecamatan Dukuhwaru, Kiai Hanafi, menjelaskan bahwa proses pembangunan Masjid Darun Ni’mah sudah berjalan selama dua tahun lebih. Namun hingga kini, kondisinya masih belum bisa dikatakan sempurna.

"Kami sudah berupaya penuh agar cepat diselesaikan, agar dapat secepatnya digunakan. Sehingga kalau ada kegiatan keagamaan, bisa menjadi pusatnya dan tidak sulit untuk mencari tempat ibadah karena letaknya yang strategis," jelasnya.    

Namun demikian, lanjut Kiai Hanafi, pihaknya sudah berulangkali melakukan upaya. Termasuk mencari agniya atau orang-orang yang dermawan untuk meneruskan pembangunan, disamping pengurus NU di masing-masing ranting juga gencar mencari dana. Hal itu tidak lain untuk kemaslahatan bersama, menegakkan kalimat Lailaha illa Allah, karena masjid juga sebagai sarana perbaikan akhlak.

Dikatakan Kiai Hanafi, memang perlu uluran tangan dari berbagai kalangan baik instansi pemerintah, umat Islam, agniya, dan yang lain agar  pembangunan masjid bisa segera terselesaikan.

“Mudah-mudahan yang sudah memberikan bantuan di masjid tersebut, bisa mendapatkan balasan pahala dan rizki dari Allah SWT," harapnya.

Sementara panitia pembanguna, Hasan Makmur, mengatakan, Panitia sudah bekerja semaksimal mungkin tetapi realitanya belum selesai juga hingga dua tahun lebih . “Dana memang menjadi kendala besar menyelesaikan pembangunan masjid. Karena memang butuh pundi-pundi keuangan agar bisa meneruskan pembangunan. Sementara sekarang belum dapat dipastikan dari mana dana-dana tersebut kami peroleh. “ katanya.

Hasan menyatakan, bantuan dari berbagai pihak sangat diharapkan untuk melanjutkan sampai finishing. “Mudah-mudahan banyak pihak yang turut membantu hingga Masjid nanti dapat selesai dan dapat menjadi kebanggaan bagi Warga NU khususnya . “ Tukasnya  (*)

Sumber : radartegal.com 
Edisi : 3 Februari 2012

Menilik Konsolidasi dan Bahstul Masail PCNU

Ratusan Pengurus PC dan MWC NU se Kabupaten Tegal Hadir
Dukuhwaru - Bertempat di SMP Maarif NU 01 Dukuhwaru, Minggu (15/1), ratusan pengurus NU dari Cabang (PC) sampai tingkat Majlis Wakil Cabang  (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) menghadiri konsolidasi dan bahtsul masail yang dilaksanakan setiap bulan sekali. Bagaimana kegiatannya?

DARI pukul 09.00 wib, terlihat beberapa PCNU, pengurus lembaga, lajnah, pengurus badan otonom (Banom) seperti Muslimat, Fatayat, Ansor, IPNU dan pengurus MWCNU se Kabupaten Tegal menghadiri acara konsolidasi dan bahtsul masail yang dilakukan setiap bulan. Dan pada bulan Januari ini, kegiatan tersebut jatuh di MWC NU Dukuhwaru, yang ditempatkan di SMP Maarif NU Dukuhwaru.

Kegiatan yang diawali dengan pembacaan doa melalui tahlil dan takmid tersebut, dilanjutkan sambutan yang disampaikan ketua tanfidziyah MWC NU Dukuhwaru, K Hanafi, dan dilanjutkan sambutan oleh Ketua tanfidziyah PCNU Kabupaten Tegal, H Ahmad Wasari MM.  Sementara Rois Syuriah PCNU Kabupaten Tegal, KH Khambali Usman memberikan sambutan melalui hotbah iftitah.

Dalam konsolidasi tersebut, selain membahas tentang program Kartu tanda anggota NU (Kartanu) juga rencana kerjasama yang dilakukan oleh PCNU dengan RS Mitra Siaga Tegal. Hadir Direktur RS Mitra Siaga Tegal, dr Wahyu Heru Triono, yang menyampaikan tentang kondisi rumah sakit, dan beberapa pelayanan serta fasilitas yang dimiliki oleh RS tersebut. Ia juga menyampaikan tentang alasannya kenapa melakukan kerjasama dengan PCNU Kabupaten Tegal.

“Ada salah satu prioritas untuk memfasilitasi warga NU khususnya di Kabupaten Tegal, dalam bentuk kepedulian sosial yang ditawarkan kepada PCNU dari kami, dengan memberikan tarif khusus. Semoga kerjasama ini bisa berjalan dengan baik dan dapat dimanfaatkan oleh warga NU Kabupaten Tegal secara menyeluruh,” kata dr Wahyu Heru Triono.

Setelah selesai melakukan konsolidasi, PCNU memberikan kepada pengurus Lembaga Bahtsul masail, untuk menyampaikan yang akan dibahas dalam bahtsul masail (baca musyawarah) tersebut.
Dalam bahtsul masail tersebut, dipimpin oleh Ustad Nawawi, dimana sebelumnya Ia menyampaikan tentang hasil bahstul masail dari PWNU, dan beberapa hasil yang pernah di bahas di gedung NU Slawi. Seperti tentang haji, posisi sholat perempuan, tentang HIV/AIDS.  Dalam pertemuan tersebut, rencana akan dibahas tentang pendidikan. Namun karena waktu tidak mencukupi, pembahasan tentang pendidikan akan dilanjutkan dalam pertemuan berikutnya. 

“Semuanya yang sudah dibahas akan dibukukan, dan dibagikan kepada MWC sesuai usulan dari peserta bahstul masail. Namun itu juga tidak lepas dari koordinasi nanti lembaga bahtsulmasal dengan PCNU,” ungkapnya. 

Sumber : radar tegal.com
Edisi     : 15 Januari 2012

Jumat, 16 Desember 2011

Syariah : Jika Imam Batal, Bagaimana Nasib Makmum?

Sudah maklum adanya bahwa shalat dapat dikerjakan secara berjamaah dan sendirian (munfaridan). Shalat berjama’ah mainimal terdiri dai dua orang. Satu berlaku sebagai imam yang berdiri die pan dan satunya lagi sebagai makmum brdiri dibelakang. Tidak ada batasan maksimal bagi makmum.
ShaLat dianggap sah jika memenuhi sejumlah persyaratan (syuruthus shihah), rukun, dan terhindar dari hal-hal yang membatalkan shalat, seperti tiba-tiba terkena najis, atau menanggung hadats dan lain sebagainya,

Selasa, 06 Desember 2011

NU Blubuk Gelar Istighosah Dan Santunan

Blubuk – Pengurus Ranting NU Desa Blubuk Kec. Dukuhwaru Kabupaten Tegal beserta badan otonomnya (banom) menggelar istighotsah malam 10 Muharom. Kegiatan yang digelar dalam rangka mengisi dan memperingati  Tahun Baru Islam 1433 H itu, dipusatkan di Masjid Amanah Desa setempat juga dirangkai dengan pemberian santunan kepada anak 25 yatim piatu, Senin malam (5/12).

Kegiatan diawali dengan Istighosah dan do’a bersama yang dipimpin oleh Katib Syuriah Nahdlatul Ulama Ranting Blubuk, Ustadz Junarto Hidayat, S.Ag. Dan diikuti pengurus NU, Banom NU (Muslimat, Fatayat, GP Ansor, IPNU dan IPPNU) serta warga NU Desa Blubuk.